Tampilkan postingan dengan label #Jumatulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Jumatulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2015

Baca Ulas : Novel Ayah, Andrea Hirata

Judul: Ayah
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 396 halaman

"Seperti dikisahkan Amiru kepadaku"

Demikian kalimat pembuka novel terbaru dari Andrea yang berjudul Ayah.
Novel ini terdiri dari 47 chapter.
Ada beberapa tokoh yang disebut dalam novel ini selain Amiru, sebut saja Sabari, dan dialah yang akan menjadi tokoh utama.

Ayah adalah tema novel ini, dan di awal kita akan dikenalkan dengan tokoh ayah yang pertama, yaitu Amirza. Dengan gaya Andrea yang khas, kita lalu diajak berkenalan dengan tokoh ayah lain yang bernama Markoni. Setelah itu kita juga akan dikenalkan dengan Insyafi, ayah dari Sabari, tokoh utama.

Perkenalan para tokoh ayah akan mengajak kita mengenal sosok Sabari dan juga Marlena. Dan tentu saja kisah Sabari mengejar cinta Marlena yang kocak, mengharu biru, tak kenal lelah dan pantang menyerah. 

"Sabari melirik bayi itu. Napasnya tertahan melihat pipi dan kening berair-air, hidung mungil dan mulut lembut bak kelopak mawar. Bayi itu bak sebongkah cahaya. Sabari gemetar karena melihat bayi itu dia menemukan seseorang yang selama ini bersembunyi di dalam dirinya. Orang itu adalah Ayah. " (hal. 181)

Ayah seperti apakah Sabari? Bagaimana akhir perjuangan cintanya kepada Marlena? Bagaimana akhir semua kisah tersebut? Untuk yang membaca postingan ini dan ingin sekedar mencari tahu jalan ceritanya, saya tidak akan spoiler, silahkan baca saja sendiri dan temukan keseruannya. Biar penasaran... Hehehe. 

Yang menarik dari novel ini, gaya bercerita Andrea yang khas. Saya sendiri termasuk menyukai gayanya dalam menyampaikan cerita (ini penilaian berdasarkan selera saja). Selanjutnya adalah saya jadi tahu informasi novel yang nampaknya ceritanya menarik, kisah tentang Florentino Ariza dalam novel karya Marquez, Love in the Time of Cholera. Novel Marquez itu beberapa kali disebut dalam novel ini. 

Yang mungkin sedikit menganggu adalah endorsement untuk Andrea Hirata berkaitan dengan karya pertamanya yaitu Laskar Pelangi yang menghabiskan delapan halaman depan. 

Seorang teman berkomentar setelah membaca novel ini, menurutnya tema Ayahnya kurang diangkat dan terlalu fokus pada kisah cinta Sabari. Ya, bisa jadi demikian... Tapi, menurut saya, novel Ayah ini sudah cukup menyampaikan tema Ayah. Ayah yang disampaikan oleh pengarang cukup banyak, kita akan melihat berbagai karakter Ayah.

Kalau memang terlihat fokus pada cerita Sabari mengejar cinta, saya pikir juga tidak masalah. Kisah Sabari mengejar cinta ini diceritakan kembali oleh anaknya. Cerita cinta Ayah kepada ibunya. Tidak ada yang salah (kembali ke penilaian pribadi). 
Terkadang kita sebagai anak merasa ingin tahu, bagaimana sejarah cinta Ayah dan Ibu bermula. 

Anyway, selamat membaca ya... Novelnya menghibur. Sebagai penutup, saya mau mengutip sekali lagi. 

"Ingat, Boi, dalam hidup ini semuanya terjadi tiga kali. Pertama aku mencintai ibumu, kedua aku mencintai ibumu, ketiga aku mencintai ibumu. "

Jumat, 28 November 2014

Jumatulis Season 2 -10 Perjalanan- Lagu Ebiet

Temanya perjalanan.
Begitu tema yang harus ditulis jumat ini.

Begitu disebut kata perjalanan, sontak yang terbayang adalah lagu Ebiet... "Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan..."

Setiap kali ingat bahwa tema Jumatulis adalah perjalanan, lagi-lagi lagu Ebiet itu terngiang dan dinyanyikan otomatis. "Sayang kau tak berada di sampingku kawan..."

Lagu itu seolah menjadi soundtrack yang mengiringi aktivitas beberapa hari ini. Begitu tersadar bahwa harus menyiapkan tulisan di hari jumat dengan tema perjalanan, mulut saya segera menyanyikan lagu Ebiet lagi tanpa diminta. "Banyak cerita, yang mestinya kau saksikan..di tanah kering bebatuan..."

Racun memang lagu Ebiet itu, dan kenapa pula menyanyikannya harus mengikuti gaya Ebiet? Benar-benar sebuah misteri yang nyata.
"Hoooo.....hooo....hoooo..."
"Kawan coba dengar apa jawabnya...."

Dan lagu Ebiet kembali dinyanyikan.

Jumat, 21 November 2014

Jumatulis Season 2 - 09 Beranda - Beranda Impian

Letaknya akan terasa indah bila terletak di samping rumah kami. Harus di samping, tidak di depan, tentu saja di depan rumah kami harus ada juga beranda tapi beranda impian saya yang terletak di samping adalah yang istimewa.

Seperangkat kursi dari kayu akan menjadi penghuni beranda tersebut, warna kayu yang hangat akan memberi rasa nyaman bagi siapapun yang menghabiskan waktu di situ. Pot-pot mungil dengan beraneka jenis bunga juga harus ada di sana. Sebuah meja bundar akan diam di sudut beranda, tempat saya meletakkan buku-buku ketika menikmati waktu di sana. Pemandangan yang akan memanjakan mata kami adalah hamparan rumput hijau dan tanaman pagar serta pohon-pohon yang akan memberi kesan teduh dan segar.

Hmmm....membayangkannya saja sudah membuat hati saya senang, beranda impian.

Sabtu, 15 November 2014

Jumatulis Season 2 - 08 Reuni - 020202

REUNI IPS 1: 02-02-2002

Begitulah tulisan yang terpampang di papan tulis kelas kami.

Ide itu terlontar setelah kami pulang dari studi tur ke Kampung Naga dan Pangandaran.

Kebersamaan ketika studi tur ternyata mempererat pertemanan kami. Padahal kami hanya satu tahun ajaran saja menjadi teman sekelas, tapi mengingat setelah studi tur ini masa kebersamaan kami sebagai teman sekelas akan segera berakhir dan justru kami merasa semakin dekat, belum berpisahpun kami sudah merencanakan pertemuan kembali.

Akhirnya kami semua harus berpisah, setelah kelulusan yang kami rayakan di laut Palabuan Ratu. Sebelum benar-benar berpisah kami semua berjanji bahwa lima tahun lagi di tanggal 02 bulan 02 tahun 2002 kami akan bertemu kembali.

Catatan akhir:
Tanggal 02 bulan 02 tahun 2002 kami benar-benar bertemu kembali. Kami reuni di acara pernikahan teman sekelas kami yang sengaja melangsungkan pernikahannya pada tanggal tersebut.

Jumat, 07 November 2014

Jumatulis Season 2 - 07 Botol - Botol Itu Tidak Ada

Tidak Ada!
Botol itu telah hilang, dan waktu yang tersisa hanya empat menit lagi.
Semua menghilang, bahkan botol yang didalamnya terdapat hiasan kapal laut kecil itu pun perlahan wujudnya lenyap dari dalam pikiran saya.

Tidak ada yang tersisa. Botol itu telah hilang.
Dan waktu telah selesai.

Sabtu, 01 November 2014

Jumatulis Season 2 - 06 SMA - Catatan Acak Masa SMA

Tema Jumat ini adalah SMA. Duuh SMA.....apa yang bisa saya tulis?
Kisah SMA saya tidaklah seperti teenlit (efek baru baca ulang Fairish) hehehe...biasa saja. tapi, coba kita korek lebih dalam ya..

Banyak orang bilang, masa SMA adalah masa yang paling indah, sampai-sampai Paramitha Rusady punya lagu yang judulnya Nostalgia SMA. Bagi saya masa SMA juga cukup menarik kalau boleh dibilang indah..ya, ada hal-hal yang menyenangkan, bikin sedih, bikin terharu, bikin salah tingkah. Pokoknya campur aduk masa SMA.

semacam bikin #20facts aja deh.. berapapun fakta yang akan saya beberkan ya.. (nulis di tengah-tengah nunggu jam kuliah selanjutnya, jadi mungkin banyak kata yang gajebo, mohon dimaafkan) ^^

1. Saya SMA di sebuah sekolah negeri yang cukup beken di kota saya ini. Masuk ke SMA ini hampir-hampir gagal karena konon kabarnya passing grade buat masuk ke SMA ini termasuk tinggi. Saya yang waktu itu cuma punya NEM 36 koma sekian jadinya H2C deh. Alhamdulillah ternyata saya lolos dan bisa sekolah di situ.

2. Pas Penataran P4, ada lagu yang begitu memorable bagi saya dan teman-teman di kelas 1-7, bahkan mungkin sampai sekarang. Lagu I Swear yang diplesetin Minions jadi Underwear itu. seorang teman kami didaulat untuk nyanyi lagu itu di depan kelas. Dengan gayanya yang bak penyanyi Idol, teman kami itu menyanyikan lagu I Swear penuh penghayatan, sehingga kemudian namanya diberi embel-embel I Swear.

3. Beberapa kali kabur dari sekolah, kabur bareng-bareng tentu saja. Sebelumnya saya gak ikutan kabur karena takut dimarahi guru, tapi.... ternyata yang jadi sasaran kemarahan para guru justru saya dan teman-teman yang bertahan di kelas. Ya sudahlah ketika ada ajakan kabur lagi, saya dan teman-teman yang awalnya gak ikut kabur akhirnya turut serta demi menjaga kebersamaan. #apeu

4. Ngotot ambil jurusan IPS padahal para guru sudah menentukan saya masuk jurusan IPA. Akhirnya dibolehkan dengan syarat saya harus jadi rangking satu di jurusan IPS. Alhamdulillah persyaratan dari para guru bisa dipenuhi.

5. Daaannn.... alhamdulillah, masa SMA ditutup dengan nilai akhir yang kebalikan dari NEM ketika masuk SMA.. alhamdulillah ^^

Jumat, 24 Oktober 2014

Jumatulis Season 2 - 05 Terasi - Tentang Seseorang

Sebuah bungkusan plastik tergeletak dengan pasrah di sudut meja kerja saya.
Sebuah post it tertempel di situ, "sedikit oleh-oleh dari Cirebon". Saya buka dengan penasaran, sebatang coklat anti galau (saya pikir coklat anti galau biasanya dari Garut) dan satu bungkusan lagi yang menunjukkan kalau benar ini datang dari Cirebon, terasi.
Ingat Cirebon, mau gak mau saya ingat seseorang. Seseorang yang sempat saya simpan fotonya di galeri hp saya.
Seseorang yang mungkin pernah menjadi calon menantu paling didambakan oleh orang tua saya. Seseorang yang mengaku menunggu saya selama 12 tahun. Seseorang yang bahkan ingat semua pertemuan tak sengaja yang terjadi setelah kami lulus SMA. Seseorang yang tidak diduga tiba-tiba datang bersilaturahmi Lebaran. Seseorang yang pernah meminta saya untuk menunggunya pada liburan Natal tahun itu karena dia akan pulang.
Seseorang yang ternyata tidak datang ketika liburan Natal itu. Seseorang yang pada suatu subuh menjelang tahun baru mengirimkan sebuah sms yang membuat saya bingung. Seseorang yang kemudian mengirimkan email pada saya di bulan Februari. Seseorang yang emailnya saya baca setelah saya memanjatkan doa terlebih dahulu.
Email:
Maaf, aku gak bisa menepati janji. Aku mau menikah akhir bulan ini. Tolong mintakan maaf ke mamah sama bapak ya..
Sekali lagi aku minta maaf.
Seseorang yang mengirimkan surat elektronik untuk menyatakan bahwa rencana kami batal demi rencananya dengan gadis itu. Seseorang yang kemudian mengabarkan bahwa dia sudah menikah dengan seorang dokter gigi. Seorang yang meminta saudaranya untuk menyampaikan hal itu kepada saya. Seseorang yang membuat saya sempat alergi pada sosok dokter yang ada di drama-drama lokal. Seseorang yang kemudian mengajak saya berteman di facebook dan membuat saya akhirnya harus melihat "dia".
Bungkusan terasi itu sedemikian hebatnya membuka pintu mesin waktu ke delapan tahun yang lalu. Dan sepanjang perjalanan ke masa lalu itu, bungkusan terasi itu tetap ada dalam genggaman saya.
Delapan tahun lalu seseorang itu sedang bertugas di kota mpek mpek, dan sekarang dia ada di kota udang tempat oleh-oleh ini berasal.
Malam ini, ketika saya mengingat kejadian oleh-oleh Cirebon itu, dengan tulus saya ingin mengucapkan terima kasih.
Untuk seseorang di kota udang, terima kasih. Karena kita pernah punya kisah pada masa lalu, saya bisa menuliskan cerita ini.

Jumat, 17 Oktober 2014

Jumatulis Season 2 - 04 Bel - Njum, Aku....

Bel tanda pergantian jam pelajaran sudah berbunyi dari jam sepuluh tadi, semakin mendekati jam dua belas, aku semakin gelisah.
Mata pelajaran sosiologi yang biasanya sangat aku sukai, hari ini terasa tidak begitu menarik. Aku sibuk melihat jarum jam pada jam tanganku. Pukul 10.50, waktunya tinggal sebentar lagi.
Hari Jumat ini aku harus bertemu dengan Njum, dia pasti akan menagih penjelasan dariku. Sedari tadi aku mencoba merangkai kata, menyusun penjelasan yang akan aku berikan pada Njum. Ya, Njum pasti akan meminta penjelasanku tentang bel itu. Bel sepedanya yang rusak saat sepeda itu dia titipkan padaku.
Aku harus mengatakan apa? Walaupun aku katakan bahwa aku tidak tahu, Njum pasti akan tetap meminta penjelasan. Ahhhh....perkara bel ini sungguh membuatku sulit.
Jarum pada jam tanganku semakin mendekati pukul dua belas. Tinggal beberapa menit lagi. Aku sudah dapat membayangkannya, Njum dengan gaya bicaranya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam akan menginterogasi aku.
Teeeeeeeeeetttttt!
Bel tanda jam pelajaran berakhir telah berbunyi. Aku bangkit dari kursiku, kurapikan seragamku dan dengan tidak bersemangat menuju pintu kelas.
Aku sudah melihatnya, dia menungguku di tangga yang menuju perpustakaan. Dari jauh senyum tipisnya sudah seperti menyambutku, pelan aku melangkahkan kaki ke arahnya.
Aku masih belum tahu, aku harus mengatakan apa.

Jumat, 10 Oktober 2014

Jumatulis Season 2 - 03 Pesona - Lift

Lift rumah sakit ini begitu memesona Adika. Setiap kali dia dan mama datang ke rumah sakit, Adika pasti merengek pada mama untuk diperbolehkan naik ke lantai atas dan turun lagi menggunakan lift. Betapa pesona lift itu telah menarik hati Adika.

Hari ini, Adika dan mama kembali mengunjungi rumah sakit. Kali ini mereka akan menengok sepupunya mama yang baru saja mengalami musibah dan harus menjalani operasi.

Ruang rawat sepupu mama ada di lantai tiga. Adika langsung menarik tangan mama untuk memasuki lift. Ada dua lift di rumah sakit ini, lift yang biasa dipakai oleh pengunjung, pasien, dokter dan perawat yaitu lift sebelah kiri, dan satu lagi yang sebelah kanan adalah lift barang. Lift kiri sedang dalan perbaikan, sehingga Adika dan mama harus menggunakan lift yang kanan.

"Pak Husein masih di ruang operasi di lantai dua bu, " perawat di depan ruang rawat lantai tiga memberi tahu kepada mama.
"Makasih pak, kalau begitu kita turun lagi ke lantai dua Dika," kata mama.

Dengan senang hati Adika mendahului mama masuk ke dalam lift, seorang perawat yang akan turun ke lantai dua pun ikut masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup. Terasa gerak lift yang sedikit turun, lalu...terdengar suara "BRUK!!" Dan tiba-tiba saja lift berhenti.
                                                                        =====
"Ma, naik tangga aja ya..." Adika menarik tangan mama ke tangga yang menuju lantai dua, dia berjalan tanpa menoleh ke arah lift yang tepat berada di sebelah tangga.

Lift rumah sakit ini tidak lagi memesona.

Jumat, 03 Oktober 2014

Jumatulis Season 2 - 02 Hasrat - Hasrat Hati

Keinginan yang kuat. Itulah yang saya dapatkan saat mencari arti kata hasrat dari Kamus Bahasa Indonesia Lengkap yang disusun Daryanto, S.S. terbitan Apollo Surabaya.
Keinginan yang kuat, bila memang itu adalah arti hasrat maka hasrat hati saya banyak sekali yang dapat dibagi. Salah satunya adalah hasrat hati yang ini.
Komik PopCorn nomor 9, dalam salah satu dialog antara Nakki, Mai, Okita dan Hatsune...Hatsune bilang bahwa cita-citanya adalah jadi ibu rumah tangga no.1 di Jepang. Entah kenapa ya.. kalimat Hatsune itu saya ingat dengan baik.
Pertemuan terakhir mata kuliah Bimbingan Perkawinan. Dosen saya bertanya, apabila nanti setelah lulus ternyata kami yang perempuan tidak bekerja, apakah kami akan merasa menyesal? Saat itu saya menjawab, bahwa saya tidak akan menyesal dan sangat yakin bahwa ilmu yang telah saya peroleh selama kuliah dapat berguna walaupun saya hanya menjadi ibu rumah tangga.
Menjelang akhir kuliah S1. Di teras rumah kosan Cempaka Putih, saya dan dua orang teman ngobrol sambil menikmati udara Bandung yang sejuk. Seorang teman bertanya, "Ti, kalau lulus nanti mau kerja dimana? Pengadilan Agama?"
"Gak mau, asti mah mau jadi penulis aja kayaknya hehehe".
"Kalau ntar udah nikah masih mau kerja gak?" Dia nanya lagi.
"Jujur, gak pernah kepikiran jadi wanita karir. Pengen jadi ibu rumah tangga aja. Kalau jadi penulis tea kesampean, kayanya masih bisa tetep di rumah tapi kerjaan juga beres."
Obrolan dilanjutkan dengan tema yang lain.
Ketika hamil anak pertama, lalu kemudian lahir anak kedua, keinginan yang kuat itu masih tetap ada. Selalu ada. Keinginan itu yang kerap muncul, sering juga dibarengi rasa bersalah kepada anak-anak ketika saya harus meninggalkan mereka demi memenuhi kewajiban saya. Rekan-rekan kerja meyakinkan bahwa seiring waktu berlalu, anak-anak semakin besar, saya tidak akan lagi kesulitan dengan peran saya sebagai ibu.
Yaaaahhh....mau dikata apa lagi, saat ini hasrat hati saya memang belum bisa terpenuhi, sehingga dalam bio twitter saya menulis: Maunya jadi full time mother.

Sabtu, 27 September 2014

Jumatulis Season2 - 01 Pop - Pop untuk Popok Kain Modern

Pop! Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata POP?
Kalau saya, saya teringat dengan Popok J

Popok, pasti ini benda yang berhubungan dengan bayi kan? Yup betul, walaupun kadang orang yang sudah tua pun ada yang menggunakan popok karena alasan tertentu.

Perkenalan saya dengan popok dimulai sejak saya memiliki anak pertama. Pertama kali yang saya kenal adalah popok kain yang bertali, dimana setiap kali si bayi pipis atau pup maka setiap kali itu pula popok kainnya harus diganti. Anak pertama saya memakai popok kain selama lebih kurang dua bulan, setelah itu dengan alasan kepraktisan, saya menggunakan popok sekali pakai alias pospak.

Popok sekali pakai ini memang sesuai dengan budaya kita yang serba instan. Dari segi kepraktisan, jelas ini praktis sekali karena saya tidak harus selalu mengganti popok anak saya. Cukup kira-kira empat jam sekali saya mengganti popoknya, kecuali dia pup maka tetap pospaknya harus segera diganti. Dari segi pilihan merk dan harga, pospak juga memberikan banyak alternatif bagi orang tua, mulai dari pospak murah, menengah sampai yang mahal, semuanya tersedia, tinggal disesuaikan dengan kemampuan saja. Tetapi, sering juga terjadi kemapuan ortu mungkin pospak tingkat menengah (harga) sementara si bayi cocoknya memakai merk tertentu yang harganya mahal. Pada saat itu, saya merasa benar-benar tertolong dengan adanya pospak. Dan, kelihatannya modern juga ya kalau bayi kita memakai pospak . #Sigh.

Tapi… ada juga saat-saat dimana saya ingin nangis karena pospak ini. Saat dimana persediaan pospak anak saya habis berbanding lurus dengan keuangan saya yang menipis T_T. Sebagai kaum gaji, pertengahan sampai akhir bulan biasanya masuk masa kritis dalam keuangan. Anak saya biasanya memakai merk M yang dari segi kualitas baik dan harganya masih cukup terjangkau oleh saya. Satu waktu persediaan pospak anak saya benar-benar habis, dia sedang kurang sehat sehingga pup terus, jadilah pospak yang sedianya bisa untuk persediaan satu minggu habis dalam waktu tiga hari saja. Dan saat itu sudah akhir bulan dimana keuangan saya mengalami sindrom sesak napas. Berat rasanya harus melangkah ke mini market untuk membeli pospak, dengan persediaan keuangan yang menipis akhirnya saya membeli popok merk S yang lebih murah dan berharap kulit anak saya bisa cocok dengan pospak  ini. Alhamdulillah sih kulitnya baik-baik saja. #Lega

Selain di saat-saat tertentu saya ingin nangis, saya juga sering merasa bersalah dengan pemakaian pospak ini. Sering juga merasa jijik. Kenapa? Karena saya beberapa kali melihat sampah pospak yang berceceran, mending kalo isi pospaknya hanya air pipis… kalau isinya pup yang belum dibersihkan?! Hiiiihhh jijik bener deh.

Setelah anak pertama saya berusia dua tahun lebih satu bulan, saya Alhamdulillah hamil lagi. Waktu itu anak saya yang pertama masih memakai pospak di kesehariannya. Dengan adanya jabang bayi ini, saya mulai khawatir, sampai kapan anak pertama saya akan tergantung dengan pospak. Mulailah saya menyapih dia dari pospak. Ternyata bukan perkara gampang. Anak saya tersebut sudah kadung keenakan memakai pospak, dia sulit untuk diajari pipis apalagi pup di wc. Perjuangan banget deh sampai akhirnya di usia 2,8 tahun, dua bulan sebelum adiknya lahir, anak pertama saya bisa lepas dari pospak.

Pada kehamilan kedua ini, saya lebih banyak menggali informasi tentang masalah perpopokkan ini. Saya waktu itu masih aktif nge-blog di Multiply. Dari diskusi dengan para mama keren multiply, saya mendapatkan info tentang Popok Kain Modern yang kemudian sering disebut dengan Clodi.
Beberapa Popok kain modern koleksi Reyhan


Dari informasi yang saya dapatkan, ada banyak kelebihan dari si popok kain modern ini. Beberapa kelebihan popok jenis ini adalah: Penghematan (Subhanallah), pengurangan sampah, kesehatan dan juga beberapa alasan lain yaitu lebih nyaman bagi kulit bayi, lebih cepat lulus toilet training (Ini Pop Markopop deh), lebih bergaya dan kalau sudah tidak dipakai bisa dilungsurkan ke adiknya atau dalam kondisi yang masih baik juga bisa dijual kembali. #WowBanget

Bulan November 2011, saya berkesempatan datang ke Mother & Baby Expo di JCC. Di sanalah saya secara langsung melihat penampakan dari popok kain modern ini. Dari diskusi dengan produsen dan penjual di expo tersebut, saya akhirnya membawa pulang dua popok kain modern untuk persiapan si dede bayi yang coming soon J

Saya membeli model clodi atau popok kain newborn dan popok kain one size. Popok kain newborn merk GG untuk dipakai dari bayi baru lahir sampai usia sekitar 9 bulan, dan yang one size merk Momcare bisa dipakai dari usia 4 bulan sampai 2 tahun.

Sedikit pengetahuan tentang popok kain modern ini ya. Popok ini berbeda dengan popok kain biasa yang bertali. Ada beberapa bagian popok kain modern dan beberapa istilah yang berhubungan dengan popok jenis ini:
Outer. Bagian dari popok kain yang menghadap keluar
Inner. Bagian dari popok kain yang menghadap ke dalam dan menyentuh kulit si kecil
Soaker. Penyerap urine yang dijahit, diletakkan di atas inner, atau disisipkan di dalam popok kain.
Insert. Soaker yang disisipkan di dalam popok kain jenis pocket
Snap. Kancing penutup dan penyesuai ukuran pada popok kain.
Hook and Loop. Perekat untuk menutup popok kain, sering juga disebut Velcro
Diaper cover. Aksesoris popok kain bila bagian outer tidak waterproof.

Popok kain modern ini benar-benar Pop markopop buat saya. Semua alasan yang diberikan tentang kelebihan popok kain ini benar-benar saya rasakan. Beneran lebih hemat, tidak merusak lingkungan, lebih cepat lulus toilet training, dan lebih keren pastinya…


Lain kali saya cerita pengalaman saya berpopok kain dengan anak kedua deh… next postingan, insya Allah.

Baca Ulas: Mecca, I'm Coming! Karya Salamun Ali Mafaz

Mecca I'm Coming by Salamun Ali Mafaz My rating: 3 of 5 stars Tokoh utamanya Eddy dan Eni dari Desa Timpik. Eddy seorang pemuda biasa...